semanis senja yang hilang
Tak
yakin, aku harus menerima. Apa ini takdir? Atau hanya sekedar ujian semata. Aku
sangat berharap senja tak lagi hilang. Namun, itu tak mungkin. Senjaku akan
pergi saat waktunya tiba.
Pertemuanku
dengannya adalah ketidak sengajaan. Perkenalanku pun hanyalah karena
kecelakaan. Senja itu selalu mengingatkanku akan tragedi itu. Gadis yang hampir
setiap sore duduk di kursi taman yang menghadap ke telaga yang di ujungnya
matahari akan tenggelam. Sinar yang tak akan siapa pun lupa.
Sore
itu aku hanya sekedar mencari udara segar. Aku sering melihat gadis itu duduk
terdiam sendiri. Namun, kini tiba-tiba ia tak ada. Aku heran. Aku mendekati
kursi itu, aku duduk menatapi matahari yang akan pulang.
“
Hai.” sapa seoang gadis. Ia langsung duduk di sampingku.
“
Hai.” sahutku memintanya duduk.
Gadis
itu sedikit terlambat. Aku tersenyum lebar. Meski, aku tahu aku tak
mengenalnya. Namun, gadis itu cukup bersahabat. Caranya mengenal orang asing
sangat mudah. Aku pun di buat nyaman bersamanya.
“
Suka duduk di sini?” tanyaku
“
Begitulah. Aku suka melihat matahari yang terbenam.”
“
Seperti itu, aku baru sekarang duduk di sini. Aku bosan dengan pekerjaanku.
Saat ada waktu luang, aku manfaatkan.”
“
Datang kesini?”
“
Ya. Aku tak tahu. tiba-tiba penasaran dengan tempat ini.” Ujarku sedikit
bingung.
Suasana
pun menggelap. Matahari telah pergi. Warnanya pun menghilang tak lama setelah
pemiliknya menghilang. Gadis itu pergi. Aku terlupa. Selama bicara, aku tak
menanyakan siapa namanya. Aku harap nanti aku punya kesempatan lagi.
***
Sore
pun tiba. Aku harap ia ada dan duduk disana. Aku pergi menuju telaga. Namun,
suasananya sepi. Orang-orang tak banyak terlihat berjalan-jalan di sana. Aku
duduk, berharap gadis itu datang lebih cepat.
Hampir
tiga puluh menit. Gadis itu tak kunjung datang, aku melirik ke kanan dan kiri.
Namun, keadaan masih tetap sama. Sepi. Aku menatap ke arah telaga. Matahari
sudah hampir habis tenggelam.
Saat
langit mulai gelap. Aku menunduk. Kecewa. Aku merasa sakit hati karena gadis
itu tak ada. Aku mulai kehilangan. Namun, aku sadar, aku tak mengenalnya.
Begitu pun dirinya. Aku tak punya hak untuk sakit hati karenannya. Senja ini
mengajarkanku untuk menerima apapun. Sekali pun indah. Namun, jika harus pergi.
Aku hatus rela.
Aku
bangun. Cahaya lampu taman mulai bersinar. Sepanjang jalan aku hanya tersenyum.
Comments
Post a Comment