Bersamamu

Andi mengigit pensil yang ia pegang. Ia sangat kewalahan. Tugas matematika yang sedang ia kerjakan sangatlah sulit. Bagaimana ia bisa keluar dari kelas. Hanya tinggal beberapa siswa lagi di dalam kelas yang belum bisa keluar istirahat.
Pak Joni, guru matematika paling menakutkan yang pernah ia temui selama bersekolah. Ia memang tega. Ia tak akan pernah mengiskantirahatkan siswanya yang tidak bisa mengerjakan tugas matematikanya.
“ Sial, aku gak sekolah waktu itu. gimana, ni?” ucapnya bingung.
“ Andi, masih belum bisa.” Tanya pak Joni.
“ Belum, pak.”
“ Makanya yang rajin sekolah, rajin belajar. Sekarang boleh istirahat, kerjakan di rumah. Nanti bapak bakalan tagih.” Tegasnya.
“ Baik, pak.” Ucap semua murid yang tertinggal di dalam kelas.
            Mereka pun beristirahat. Andi hanya duduk diam. Sendiri. Seorang gadis bernama Vina masuk ke kelas.
            “ Di. Ngapain?” tanyanya menghampiri.
            “ Gak. Cuma sedikit pusing aja.”
            “ Baru sembuh, kan.”
            Vina duduk di bangku yang dekat dengan Andi. Mereka mengobrol. Vina menghibur Andi.
            Waktu pulang, Andi berjalan dengan cepat. Semua temannya heran, bahkan saat temannya memanggil pun ia tak menoleh ke belakang. Vina hanya mengerutkan kening. Ia bingung. Kenapa dia?
            Andi pergi ke sebuah rumah sakit. Ternyata yang membuatnya tergesa adalah ayahnya. Ayahnya mengalami kecelakaan yang cukup parah. Ia hanya bisa memandangnya dari balik kaca yang membatasi. Ayahnya terkujur tak sadarkan diri. kepalanya di balut perban. Pasti kepalanya terbentur.
            Saat Andi memandang Ayahnya dari balik kaca. Seseorang menepuk pundaknya. Hal itu menbuat Andi terkejut. Ia membalikan badan. Ternyata Vina. Ia mengikutinya sampai ke rumah sakit.
            “ Di, yang sabar.” Tenangnya.
            “ Ya. Kenapa kau ada di sini?” tanya Andi.
            “ Aku penasaran, kenapa kamu buru-buru.”
            Mereka duduk. Andi menceritakan tentang ayahnya. Ia pun tak tahu tentang kecelakaan ini. Seorang guru memberitahunya. Ia bercerita akan kesedihan yang ia rasa. Ayahnya adalah satu-satunya orang yang ia punya. Andi merasa akan sangat sedih jika ayahnya tak selamat. Ia bersyukur ayahnya masih di beri kesempatan.
            Andi dan Vina masih menunggu, seorang perawat menyarankan agar mereka pulang saja. Ayahnya masih belum tak sadarkan diri, sedang hari sudah hampir gelap. Andi pun meminta Vina untuk pulang. Ia akan tetap berjaga. Vina pun pulang. Namun, ia pun meminta Andi untuk pulang juga. Besok masih sekolah.
            Andi akan tetap menunggu. Suster melarang. Katanya, ucap Vina memang benar. Andi masih anak sekolah. Alangkah baiknya jika ia pulang, apalagi besok bukan hari libur. Andi pun mengalah. Ia meninggalkan ayahnya yang masih belum sadarkan diri. andi pulang.
            Di rumah ia bersedih. ia terus memikirkan ayahnya. Ia hanya sendiri, tak ada seorang pun yang menemani, selain dari album foto yang sedang ia pandangi. Keluarganya. Foto-foto bersama ayah, ibu bahkan kerabatnya. Ia menjatuhkan air mata. Apa kebersamaan ini akan hilang?
            Ia memeluk album foto sambil menangis. Ia tidur di ruang tamu, kepalannya berada di sofa. Album foto masih dalam pelukannya.
***
Pagi-pagi ia telah siap dengan seragamnya. Ia akan berkunjung terlebih dahulu ke rumah sakit sebelum pergi kesekolah. Ia tak sarapan dulu karena ia ingin segera menemui ayahnya.
Di rumah sakit, ia mengunjungi kamar ayahnya. Ia menjatuhkan tas yang ia gendong dengan satu tangan. Ia meneteskan air mata. Ayahnya sudah tak bernyawa. Ayahnya di tutupi kain putih.
“ Ayah?” bibirnya bergetar.
Ia langsung mencoba membangunkan ayahnya. Ia tak kuasa menahan tangis. Tangisannya semakin mengeras. Saat itu, para perawat hanya memandanginya. Apa yang bisa mereka lalukan. Saat itu pun, Vina berada di sana membawakan makanan dengan niat berkunjung. Menjenguk ayah Andi.
Vina langsung terkejut. Ia langsung menenangkan Andi yang menangis.
“ Udah, Di.” Tenangnya.
Andi pun keluar. Ayahnya di urus oleh perawat.
“ Vin..” Andi memandang wajah Vina.
“ Udah. Tenang. Ini itu udah takdir.”
Andi menghapus air matanya.



Comments

Popular posts from this blog

Pergi

Mimpi Besar

Tak mampu