Kisah Bersama Hujan




            Harus mengulang kembali kenangan itu, Bim. Ucap Nadia yang lesu. Sekujur tubuh basah. Hujan deras yang turun membasahi semua bagiannya membuatnya terdiam.
            “ Maaf.” Ucapnya setelah mengganti semua pakaian.
            “ Tak apa. aku kira kau pergi kemana.”
            Bima tahu pasti Nadia telah pergi ke tempat sunyi. Menyendiri. Gudang belakan rumah. Kamar khususnya tuk merindu kekasih yang pergi jauh. Bingung, itulah yang sering Bimo rasakan saat melihat Nadia yang hampir berbulan-bulan merenung sendiri. Nadia wanita yang pendiam. Ia selalu menutupi masalah yang sedang ia rasa. Sekali pun Bimo merupakan orang terdekat dengannya, Nadia tak pernah bicara.
            Pagi yang cerah, tanah yang masih basah karena hujan kemarin. Bimo berniat mengajak Nadia pergi ke luar. Nadia di titipkan ayahnya pada Bimo. Ayahnya mempercayakan Bimo sebagai orang yang mampu menjaga Nadia. Ayahnya telah pergi. Rasa sakit yang dirasa Nadia pun tak mampu untuk di gambarkan. Ia sangat terpukul. Ibunya meninggal dengan kecelakaan yang tragis. Lalu, tak lama kemudian  ayahnya meninggal karena penyakit yang di milikinya.
            Nadia tak terlalu banyak bicara. Bimo kesulitan menghadapi Nadia karena sulit di ajak bicara. Bimo mengajaknya ke tempat belanja, ia menerima apa yang Bimo berikan. Baju ini, mau. Yang lain pun juga.
            “ Nad, aku harap kau tak memikirkan orang-orang yang telah meninggalkanmu.” Ujar Bimo sambil berjalan. Nadia hanya diam. Bimo mengajak Nadia ke kedai makanan berbahan dasar ayam. Nadia ikut.
            “ Bim. Aku minta maaf.”
            “ Untuk apa?”
            “ Untuk segala yang pernah aku perbuat. Segala yang pernah aku lakukan. Aku tak sanggup. Terima kasih kau sudah bersabar menghadapiku.” Jelasnya sambil memandang Bimo dengan mata yang sayu.
            “ Gak apa.”
            Mereka pulang.


            Hujan mengguyur mereka saat hendak mencari kendaraan. Mereka meneduh sebentar. Nadia hanya memandang Bimo yang tengah menyentuh air hujan yang cukup deras.
            “ Lucu sekali.” Kata Nadia.
            “ Apanya.”
            “ Kamu.” Nadia tersenyum.
            Mereka saling diam. Hingga hujan sedikit mulai mengecil. Bimo mengajak Nadia pulang. Cinta bisa datang kapan aja. Nadia bicara seperti itu.
            “ Kapan aja.” Ucap Bimo.
            Nadia tertawa kecil.
           


Comments

Popular posts from this blog

Pergi

Mimpi Besar

Tak mampu