Posts

Showing posts from September, 2016

Haruskah selalu memilih?

            “ Apa?” aku terkejut.             “ Kenapa? Mama udah putusin. Kamu akan mama jodohkan sama anak temen mama.” Mama tegas memutuskan.             Aku pergi keluar. Aku sangat kesal. Bagaimana bisa, aku juga punya cinta saat ini. Tak mungkin aku harus menerima wanita lain, aku menyukai orang lain. Aku tergesa pergi ke kantor.             Sore pun tiba. Aku putuskan untuk bercerita pada orang yang paling dekat denganku. Wanita yang sangat bijak dan penuh pengertian. Ia selalu memberi solusi padaku agar aku memilih sesuatu dengan bijak. Naina, aku putuskan menemuinya di kafe. Aku sudah janjian dengannya.             “ Maaf, aku sedikit telat. Udah nunggu lama.” Kataku saat tiba di sana.      ...

Kawan dan sebuah perpisahan

Kawan Bersamamu aku senang Kita bergurau bersama Menyatukan suka dan duka Kawan Lepas, kita harus berpisah Aku tak mampu menerima ini semua Bersabarlah, kita pasti berjumpa kembali Kawan Masa-masa yang tak pernah terlupa Dari ingatan yang menua Aku tak akan pernah percaya Kita harus berpisah Kawan Semoga jauh disana Kau mendapatkan kebahagiaan yang kau mimpikan Aku kan selalu mengenangmu dalam kalbu ini Semoga bahagia, kawan Dalam mengingat kenangan bersama sahabat G.Ghifary MA Pulosari, 22 september 2016

Penantian sebuah janji

Janji yang pernah terucap Aku hargai Kau memintaku untuk menunggu Kapan kau datang? Telah lama aku menunggu Menantimu Menanti sebuah janji yang pernah kau ucap Aku lelah menunggu Lama waktu yang aku habiskan hanya untuk menunggumu Akankah kau kembali? Menyatakan janji yang kau beri? Pulanglah, aku ingin kau kembali  G.Ghifary Garut, 06 september 2016

Bersamamu

Andi mengigit pensil yang ia pegang. Ia sangat kewalahan. Tugas matematika yang sedang ia kerjakan sangatlah sulit. Bagaimana ia bisa keluar dari kelas. Hanya tinggal beberapa siswa lagi di dalam kelas yang belum bisa keluar istirahat. Pak Joni, guru matematika paling menakutkan yang pernah ia temui selama bersekolah. Ia memang tega. Ia tak akan pernah mengiskantirahatkan siswanya yang tidak bisa mengerjakan tugas matematikanya. “ Sial, aku gak sekolah waktu itu. gimana, ni?” ucapnya bingung. “ Andi, masih belum bisa.” Tanya pak Joni. “ Belum, pak.” “ Makanya yang rajin sekolah, rajin belajar. Sekarang boleh istirahat, kerjakan di rumah. Nanti bapak bakalan tagih.” Tegasnya. “ Baik, pak.” Ucap semua murid yang tertinggal di dalam kelas.             Mereka pun beristirahat. Andi hanya duduk diam. Sendiri. Seorang gadis bernama Vina masuk ke kelas.             “ ...

Kisah Bersama Hujan

            Harus mengulang kembali kenangan itu, Bim. Ucap Nadia yang lesu. Sekujur tubuh basah. Hujan deras yang turun membasahi semua bagiannya membuatnya terdiam.             “ Maaf.” Ucapnya setelah mengganti semua pakaian.             “ Tak apa. aku kira kau pergi kemana.”             Bima tahu pasti Nadia telah pergi ke tempat sunyi. Menyendiri. Gudang belakan rumah. Kamar khususnya tuk merindu kekasih yang pergi jauh. Bingung, itulah yang sering Bimo rasakan saat melihat Nadia yang hampir berbulan-bulan merenung sendiri. Nadia wanita yang pendiam. Ia selalu menutupi masalah yang sedang ia rasa. Sekali pun Bimo merupakan orang terdekat dengannya, Nadia tak pernah bicara.             Pagi yang c...

Sendiri Melukis Mimpi

Melukis mimpi tak pernah terjadi Hanya angan saja Mimpi habis di telan gelap Tak mampu berdiri Ingin rasa melukis mimpi Seorang diri Tak mungkin mampu Terus berusaha Mimpiku hanya angan saja Aku tak mampu meraihnya Segala usaha aku kerahkan untuk itu Hanya sia-sia                                                                                                              G.Ghifary Limbangan, 03 September 2016

semanis senja yang hilang

Tak yakin, aku harus menerima. Apa ini takdir? Atau hanya sekedar ujian semata. Aku sangat berharap senja tak lagi hilang. Namun, itu tak mungkin. Senjaku akan pergi saat waktunya tiba. Pertemuanku dengannya adalah ketidak sengajaan. Perkenalanku pun hanyalah karena kecelakaan. Senja itu selalu mengingatkanku akan tragedi itu. Gadis yang hampir setiap sore duduk di kursi taman yang menghadap ke telaga yang di ujungnya matahari akan tenggelam. Sinar yang tak akan siapa pun lupa. Sore itu aku hanya sekedar mencari udara segar. Aku sering melihat gadis itu duduk terdiam sendiri. Namun, kini tiba-tiba ia tak ada. Aku heran. Aku mendekati kursi itu, aku duduk menatapi matahari yang akan pulang. “ Hai.” sapa seoang gadis. Ia langsung duduk di sampingku. “ Hai.” sahutku memintanya duduk. Gadis itu sedikit terlambat. Aku tersenyum lebar. Meski, aku tahu aku tak mengenalnya. Namun, gadis itu cukup bersahabat. Caranya mengenal orang asing sangat mudah. Aku pun di buat nyaman ...