Haruskah selalu memilih?
“ Apa?” aku terkejut.
“
Kenapa? Mama udah putusin. Kamu akan mama jodohkan sama anak temen mama.” Mama
tegas memutuskan.
Aku
pergi keluar. Aku sangat kesal. Bagaimana bisa, aku juga punya cinta saat ini.
Tak mungkin aku harus menerima wanita lain, aku menyukai orang lain. Aku
tergesa pergi ke kantor.
Sore
pun tiba. Aku putuskan untuk bercerita pada orang yang paling dekat denganku.
Wanita yang sangat bijak dan penuh pengertian. Ia selalu memberi solusi padaku
agar aku memilih sesuatu dengan bijak. Naina, aku putuskan menemuinya di kafe.
Aku sudah janjian dengannya.
“
Maaf, aku sedikit telat. Udah nunggu lama.” Kataku saat tiba di sana.
“
Gak, kok.”
“
Aku pengen cerita. Aku suka seseorang. Namun, aku harus menikahi orang lain.”
Jelasku padanya. Ia mendengarkanku.
“
Siapa?”
“
Adalah, yang pasti aku minta saran kamu.” Ujarku kebingungan.
“
Aku rasa kau harus meyakinkan dirimu. Kamu lihat wanita mana yang lebih
menbuatmu nyaman.” Katanya dengan lembut.
Sungguh
bijak. Benar. Aku sebetulnya harus melihat dan menilai terlebih dahulu. Baru
aku pilih.
“
Oh, Bay. Aku juga pingin pamit.”
“
Emang mau kemana?” aku penasaran.
“
Aku mau pulang. Gak bakal ke sini lagi. Soalnya mau nikah.” Jelasnya.
“
Apa?” spontan aku berkata. Terkejut.
Aku
tak menyangka dengan apa yang ia katakan. Aku tak percaya, kenapa ia bicara
seperti itu. Ia pun pergi, meninggalkanku sendiri. Aku hanya duduk merenung.
Aku sungguh sedih. Aku sangat mencintainya. Namun, ia pergi tanpa menanyakan
perasaanku. Aku yang terlalu lama diam.
***
Pagi
ini aku harus menemui gadis yang akan di kenalkan padaku, aku tak mampu
memilih. Aku inginkan Naina. Bukan gadis yang akan di kenalkan padaku. aku
dilema. Bingung.
Setibanya,
aku langsung bertemu dengan orang tua Gadis itu. Dinda, sebut ayahnya
memberitahukan namanya padaku. aku hanya tersenyum. Tak lama dari itu, Dinda
datang. Ia menemuiku.
“
Ini putri bapak.” Ayahnya menunjukan dan mengenalkannya.
“
Hai.” sapaku.
“
Kalian kenalan aja dulu. Ngobrol, biar deket.” Kata mama.
Mereka
meninggalkanku berdua. Hening. Dinda tak bersuara. Aku memulainya. Aku
berkenalan dengannya.
“
Jadi, Dinda sedang kuliah?” tanyaku gugup. Ia mengangguk. Suasana kembali
hening.
Suara
detak jam menghantui. Rasanya keringatku bercucuran. Aku sangat gugup. Di sini
hanya kami berdua. Saat hening, tiba-tiba aku di kejutkan oleh datangnya Naina.
Aku heran. Naina? Ada di sini? Aku menatapnya. Kami saling menatap.
“
Naina?”
“
Bayu?” kami saing memandang.
“
Jadi, gadis itu Dinda?” tanyannya tak menyangka.
“
Na. Kamu ngapain di sini.”
“
Kakak. Kalian udah kenal. Apa-apaan ini.” Potong Dinda yang hanya terdiam dari
tadi.
“
Aku gak sangka aja. Ternyata perjodohan ini antara kamu sama Dinda. Aku gak
pernah tahu kalo kamu mau di jodohin.” Naina pergi ke dalam rumah. Aku
menghentikannya.
“
Na, kamu tahu. aku minta kamu untuk ngasih solusi tentang memilih.” Naina
terhenti. Dinda hanya mendengarkan.
“
Gak.”
“
Kamu.” Ucapku.
“
Apa?” Dinda sedikit bingung.
“
Kamu. Aku ingin kamu jadi cinta orang di hatiku. Namun, kau bilang akan
menikah. Kau memintaku memilih, jika pilihannya sudah hilang. Maka, aku akan
mengambil yang satunya.”
“
Terserah.” Ia pergi.
Antara
aku dan Dinda hanya bisu. Kami sama sekali tak bicara. Dinda hanya menangis.
Sedang aku bingung. Entah siapa yang harus aku pilih?
Comments
Post a Comment