Sandra, gadis di balik kaca





            Praaakkk!!
            Suara gelas yang pecah secara tiba-tiba. Mita terkejut. Gelas yang hendak ia ambil, pecah. Mita membersihkan beling-beling yeng berserakan di lantai. Setelah selesai, Mita menuangkan kembali air ke gelas yang baru.
            “ Aneh.” Ucapnya sambil melamun. Tanpa di sadari airnya meluap.
            Ia mengelap meja yang terkena air. Ia pergi ke ruang keluarga. Ia duduk dengan gelas yang masih ia pegang. Ia meminumnya sembari berpikir. Aneh sekali hal itu bisa terjadi, ia menyimpan gelas di meja samping kursi yang sedang ia duduki. Ia mengambil buku Novel yang tadi sedang ia baca.
            Terdengar suara ketukan pintu. Ia menyimpan bukunya, lalu pergi menuju pintu depan. Seorang nenek tua yang sedikit bungkuk dengan tongkat di tangan kanannya. Ia bertanya pada Mita tentang seorang gadis yang tinggal di daerahnya.
            “ Siapa, Nek?”
            “ Sandra.” Ucap nenek tua itu.
            “ Sandra? Saya rasa tak ada gadis dengan nama itu.”  jelas Mita kebingungan.
            “ Terima kasih.”
            Sandra. Mita berpikir saat menutup pintu. Ia memikirkan sesuatu. Namanya sedikit terbayang. Mita seperti mengetahui sesuatu. Namun, siapa Sandra?
            Ia duduk kembali. Membaca novel yang terhenti tadi. namun, ia tak merasa senang. Ia jadi terus kepikiran dengan Sandra. Siapa sebenaranya. Apa cucunya? Anaknya? Siapa? Begitu banyak tanda tanya di kepalanya.
            Ia pergi ke kamarnya. Ia pikirkan sejenak. Ia putuskan untuk mencari tahu Sandra. Meski tak punya petunjuk ia akan cari. Ia mengambil jaket yang mengantung. Ia oergi keluar, menyusul nenek tua yang tadi mengetuk pintu rumahnya. Ia yakin belum jauh. Kalau nenek itu mencari seseorang, pasti ia akan bertanya kepada setiap orang yang ia temui.
            Mita mencari. Namun, nenek itu telah menghilang. Mita masih terus mencari. Ia semakin penasaran dengan kejadian yang ia alami hari ini. Saat ia menoleh ke belakang, nenek tua itu melewat di hadapanya. Ia berlari. Saat, ia melirik ke arah nenek itu pergi. Tak ada. Ia sedikit heran. Begitu cepat nenek itu menghilang. Ia membalik badan untuk pulang. Ia menjerit. Nenek itu tiba-tiba ada di hadapanya. Masih dengan tongkat yang sama.
            “ Nenek.” Ia terkejut.
            “ Ada apa?” tanya nenek tua.
            “ Gak. Nek, emang sandra itu siapa?”
            “ Sandra itu cucu nenek. Ia pergi ke sebuah tempat yang berada di sini. Namun, ia hilang.” Jelasnya. Mita kebingungan.
            “ Mita coba bantu. Nanti Mita cari dan tanya-tanya soal Sandra ke orang-orang. Mita pulang dulu.” Ia pulang dengan pikiran yang aneh.
***
            Saat di sekolah, ia bertanya-tanya pada temannya yang sudah tinggal lebih lama di daerah yang kini ia tinggali. Mita merupakan warga pindahan.
            “ Jan, kamu pernah denger tentang gadis bernama Sandra di sini? Kamu kan tinggal lebih lama dari pada aku.” Tanya Mita serius.
            “ Sandra? Gadis yang mati secara misterius.” Jelasnya.
            “ Apa?” teriaknya.
            “ Kenapa kamu?” tanya Anjani.
            “ Mati? Yang bener.”
            “ Mungkin. Emang kamu nanya Sandra yang mana?” tanya Anjani.
            “ Aku gak tahu. denger, kemarin ada nenek tua yang aku gak pernah liat. Datang ke rumahku untuk menanyakan cucunya yang bernama Sandra.” Jelas Mita.
            “ Nenek tua? Jangan-jangan.” Anjani ketakutan
            “ Diam, kau.” Mita meminta anjani untuk tak menakutinya.
            Ia sedikit bingung. Jika di pikir-pikir siapa nenek tua itu. namun, aku yakin sandra belum mati. Ia masih ada. Kalau Sandra mati, kenapa nenek tua itu mencarinya? Namun, bisa juga. Sandra mati secara misterius. Tak ada yang tahu. ia membuang jauh pikiran seperti itu.
            “ Jan, daerah mana yang paling warga takutin tentang Sandra?” Tanya Mita.
            “ Jangan takut. Rumah kosong yang ada di depan tumah kamu.” Bisik Anjani.
            “ Ha? Rumah kosong itu.” Mita menganga. Anjani mengangguk.
            Mita langsung pergi keluar. Ia menenagkan diri di luar. Ia tak percaya. Apa yang sebenarnya terjadi. Ia berharap papanya pulang sore ini. Ia sangat ketakutan.
            Pulang sekolah, saat hendak masuk ke rumah ia menatap rumah kosong yang kaca-kacanya kusam. Dinding yang menghitam. Pintu yang tertutup. Bagaimana tak menakutkan. Atapnya sedikit hancur. Rumahnya pun tak berpagar. Halaman yang luas. Bahkan kolam yang kering. Sungguh menakutkan.
            Ia masuk kamr. Ia terus berharap kalau papanya pulang. Ia sendiri di rumah. Ibunya tak ada. Pergi bersama papanya. Ia gantungkan tasnya. Saat ia bercermin, ia tak sadar ada sesuatu yang aneh di cermin itu. Saat ia sadar, ia menjerit. Tulisan darah terlukis di cermin kamarnya.
            Ia membacanya. Ia bingung dan ketakutan. Dari jendela ia melihat ke arah rumah kosong itu. Ia menguatkan diri. Ia berkata aku tak takut.
            Tolong aku. Selamatkan aku.
            Ia menghapus tulisan itu. ia terus berkata kalau ia tak mampu. Namun, ia sedikit tertantang untuk tahu lebih tentang ini semua. Ia akan mencari tahu seluk beluk rumah kosong itu. Juga sandra. Kematian yang misterius.
            Malam ini sendiri. Ia tak takut. Papanya tak pulang. Ia masih di kamar. Dari jendela kamar, ia menatap tajam ke arah rumah kosong. Atap, pintu dan jendela. Kaca-kaca kusam itu memberikan sebuah jawaban. Namun, Mita tak mengerti.
            Saat ia memandang kaca yang kusam. Sebuah bayangan terlihat menampakan bentuk tangan. Tubuhnya pun mulai terlihat. Saat bayangan mulai terlihat jelas, ia menutup jendela dan berdiri membelakangi. Dadanya berdegup kencang. Ia sesak. Ketakutan.
            Ia langsung meloncat ke tempat tidur. menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia memejamkan mata. Ia tak membukannya.
***
            Teror darah itu masih ada, bahkan saat ia bangun pun. Ia menjadi yakin, bahwa teror ini bukan menakutinya, tapi meyakinkannya. Sebuah jiwa ingin di selamatkan. Pikirnya pasti. Sandra mengalami pembunuhan di rumah itu. namun, tak ada seorang pun yang tahu akan pembunuhan itu, bayangan saat malam tadi. Ia terus memikirkannya.
            Ia pergi ke sekolah, ia mengambil roti untuk sarapan. Ia pergi sambil memakan roti itu di jalan. Saat berhadapan dengan rumah itu, Mata Mita menatap tajam. Ia akan membokar semua.
            Saat di sekolah, ia banyak melamun. Kejadian ini membuatnya selalu berpikiran aneh. Ia harap semuanya selesai. Ia harus menyelesaikan semua ini. Hanya dia yang bisa. Ia pergi ke bangku Anjani. Ia tanyakan lebih detail tentang Sandra. Kematian yang ia alami membuatnya menderita. Bahkan setelah ia mati.
            “ Jan, aku pengen tahu lebih banyak tentang Sandra.”
            “ Apa?” Anjan terkejut.
            “ Udah. Aku muak dengan semua ini. Aku harus bongkar semua.” Tegas Mita.
            Anjani jelaskan semua. Sandra, rumah kosong itu, dan kematiannya. Mita sedikit mengerti permasalahannya. Sandra meninggal di rumah itu.
            Ia memutuskan semua. Ia akan datang rumah kosong itu sehabis pulang sekolah. Ia akan cari tahu, dimana Sandra meninggal.
            Sehabis pulang sekolah, Mita datangi rumah itu. Suasananya sangat sunyi. Tak ada suara. Ia melihat sekeliling. Ia sentuh tembok rumah itu, dingin. Tak terawat. Ia membuka pintu. Terkunci. Ia mencari jalan masuk.
            Di bagian samping ada belahan pintu yang terbuka. Ia mencoba untuk masuk ke dalam. Di dalam sangat sepi, gelap. Mita sangat ketakutan. Namun, ia mencoba untuk memberanikan diri. Ia masuk semakin dalam. Membuka pintu yang mungkin masih bisa terbuka. Ia rasa tak pernah ada orang yang berani datang ke sini. Suasananya sangat hening. Tak ada suara selain tetesan air di suatu ruangan.
            Ia membuka satu per satu pintu. Ia mencari sesuatu yang mengkin bisa jadi petunjuk agar semua ini menjadi jelas. Saat ia membuka pintu sebuah ruangan, ia terkejut. Mayat seorang gadis tergantung. Mita berteriak. Ia yakin ini adalah sandra. Ia berlari pergi. Ia turuni tangga dengan cepat kakinya bergetar.
            “ Ma..ma..yat..” ia menangis.
            Mayat itu membayangi penglihatannya. Matanya menunjukan kalau ia meminta Mita untuk menolongnya. Mita berlari, mencari bantuan.
            “ Pak..ada mayat tergantung.” Suaranya terbata saat berkata kepada polisi.
            Polisi pun mendengarkannya. Ia meminta Mita untuk menunjukan dimana mayat tersebut. Polisi mendobrak pintu. Ia mencari mayat itu. Polisi pun mendapatkannya.
            “ Ha? Pak. Tolong cari ruangan lain.” Pintanya.
            Mita meminta polisi mengurusinya dengan baik. Nenek itu, pasti sedih. Mungkin mayat itu adalah Sandra.
***
            Sandra di urus dengan baik. Saat di pemakaman Mita hanya bisa menyaksikan dari jauh. Ia masih shok dengan semua yang telah terjadi.
            Saat ia hendak pulang. Ia berharap papanya pulang. Hampir satu minggu papanya tak pulang. Ia sangat rindu.
            Saat di rumah ia hanya melamun di ruang tamu menanti papanya pulang. Pintu depan terketuk. Ia langsung membuka. Nenek tua itu datang kembali. Mita sangat terkejut.
            “ Terima kasih.” Nenek tua itu tersenyum. Mita bingung. Nenek tua itu pergi.
            Nenek tua itu tak membalikan kepalanya, saat Mita memanggilnya. Nenek itu pulang. Mita kembali ke dalam. Menutup pintu dan menangis di balik pintu. Semua kejadian yang telah terjadi membuatnya leleh. Tiba-tiba, pintu terketuk kembali. Ia bengong. Terkejut.
            “ Papa.” Ia tak sangka. Mita langsung memeluk papanya erat.



Comments

Popular posts from this blog

Pergi

Mimpi Besar

Tak mampu