Keluarga Saarii
Suatu
hari, sebuah kerajaan bernama kerajaan Saarii yang berada di sebuah pulau
bernama pulau Palla di limpahi kebahagiaan. Seorang ratu yang sudah hampir enam
tahun menunggu seorang anak, di karuniai dua bayi kembar yang sangat cantik.
Kebahagiaan
mereka terusik oleh Mamari, adik sang ratu yang berubah menjadi penyihir jahat
yang memelihara bayangan hitam. Ia sangat berambisi untuk menghancurkan
kerajaan mereka dan menguasai kerajaan agar jatuh ke tangannya.
Beberapa
hari setelah kedatangannya kekerajaan untuk mengadakan perang. Sang raja, suami
dari ratu Kirani. Menerima peperangan itu. Raja pergi ke suatu tempat yang
telah Mamari rencanakan.
Keadaan
kerajaan yang sepi, dimanfaatkan Mamari untuk merebutnya. Kirani, sang ratu tak
mampu berbuat apapun. Yang ia pikirkan adalah menyelamatkan kedua putrinya yang
sangat ia cintai. Mamari dan pasukannya mengepung dan menguasai kerajaan itu,
Kirani menyembunyikan kedua bayinya. Ia meminta, Lan dan Zun untuk menjaga
mereka.
Kirani
menghadapi Mamari. Ia mencoba menghentikannya. Namun, apa daya. Lan dan Zun
membawa pergi kedua bayi ke bumi. Namun, Lan dan Zun berpisah di tempat yang
berbeda. Begitu pun kedua bayi kembar itu
***
Pagi
cerah. Seorang gadis dengan rambut kepangnya menghirup udara segar dari balkon
rumahnya. Seorang wanita yang tengah menjemur pakai di bawah memarahinya karena
bangun terlalu siang.
“
Cepat turun!” perintah wanita itu.
Gadis
itu kabur. Ia sering melanggar peraturannya. Namun, tetap mendengar apa yang
wanita itu katakan. Rumah yang sangat sederhana, mereka tinggali.
“
Riri. Kemarilah.” Riri nama gadis itu menghampiri wanitayang telah ia anggap
seperti ibunya sendiri. Wanita itu tak menerima jika ia di anggap ibu oleh Riri.
“
Mana kalungmu?” Riri memegang lehernya.
“
Kemana, ya?” Riri panik.
“
Cepat cari.”
Riri
mencari kalung itu, ia obrak-abrik seluruh kamarnya. Untunglah, kalungnya dapat
di temukan. Ia sangat takut jika kalungnya tak dapat di temukan. Riri langsung
memakainya.
Wanita
itu menyuruh Riri untuk membeli sesuatu ke pasar. Bahan makanan mulai habis. Ia
takut, jika nanti kehabisan bahan makanan. Meski mereka tinggal berdua, bukan
berarti mereka hanya memakan nasi saja. Apalagi di lingkungannya, Riri
mempunyai banyak anak kecil yang makan di rumahnya.
Setiba
di pasar, Riri berkeliling mencari bahan makanan. Hari itu, Riri ingin memberi
makan para anak kecilnya dengan daging. Ia membeli daging cukup banyak. Saat
hendak mengambil daging, seorang gadis yang berdiri bersebelahan dengannya pun
membeli daging. Saat, penjual itu memberikan pada Riri, ia terkejut kenapa
gadis yang berada di sebelah Riri berwajah sama dengannya.
“
Riri kamu ada dua?” ucap penjual itu.
“
Dua?” ia bingung dan memalinkan wajahnya ke sebelah kiri. Ia berteriak, begitu
pun gadis yang ia tatap.
Wajah
mereka sama. Orang yang mengenal Riri tak tahu jika ia memiliki kembaran.
Begitu pun Riri. Ia tak tahu dengan gadi yang memiliki wajah yang sama
dengannya.
“
Siapa kamu?” tanya gadis yang berteriak bersama Riri.
“
Kamu siapa?” Riri menanya balik.
“
Gak. Ini gak mungkin.”
“
Ya. Ini gak mungkin.”
Gadis
itu menarik tangan Riri. Ia mengajaknya pergi ke rumahnya untuk mempertanyakan
itu semua. Seorang pria yang cukup dewasa, pria yang tinggal dengan gadis itu.
Riri melepaskan tarikannya.
“
Lepaskan!” Riri melepaskan.
“
Kenapa?”
“
Kenapa? aku tanya kamu siapa? Beraninya kau menarikku.” Riri marah. Ia menunjuk
gadis itu memperingatinya.
“
Kamu pasti kembaran aku yang sering di ceritakan pamanku.” Gadis itu
meyakinkan.
“
Ya. Pamanmu. Aku sama sekali tak mengenalmu. Aku pun tak mau punya saudara
sepertimu. Aku tak peduli. Kau ini sangat gila.” Ia langsung membalik badan.
“
Terserah. Tapi, aku mohon. Ikutlah.” Pintanya. Ia menarinya kembali. Langit
langsung mengelap.
Mereka
kebingungan. Mereka menatap langit. Gadis itu langsung meminta Riri untuk naik
ke motornya. Riri pun menerimanya. Ia ketakutan akan terjadi hujan yang besar
dan lebat.
Mereka
tiba di depan rumah gadis itu.
“
Hey. Siapa namamu? Kenapa kau yakin aku itu kembaranmu. Tak pernah ada yang
bercerita jika aku punya kembaran.”
“
Sasa.”
“
Kalungmu.”
Mereka
saling melihat kalung mereka masing-masing. Hujan turun. Lebat. Riri langsung
berlari. Ia masuk ke rumah Sasa. Riri menunggu di luar, bajunya basah. Sasa
mengajaknya masuk dan memintanya untuk mengganti bajunya.
“
Paman!” teriak Sasa memanggil.
“
Begitu kau memanggil orang yang lebih dewasa.”
“
Sasa.” Sapa paman pada Riri.
“
Aku Riri.”
“
Apa?”
“
Paman ini aku.” Ujar Sasa.
“
Kalian sudah bertemu.”
“
Apa?” tanya Sasa dan Riri berbarengan.
Mereka
bingung. Pamannya meminta mereka mengganti terlebih dahulu baju mereka. setelah
mengganti, pamannya meminta mereka duduk di kursi yang berada di depan.
Pamannya menceritakan kekembaran mereka.
Suara
petir menggelegar. Mereka menutup telinga. Paman menuangkan teh panas pada
gelah yang sudah di sediakan di hadapan mereka. mereka meminumnya. Riri
gelisah. Ia takut, bagaimana jika bibinya mencarinya. Hari sangat gelap. Ia
pasti khawatir.
Paman
tersenyum. Ia menenangkan. Ia berkata jangan terlalu memikirkan bibimu. Riri
heran. Kenapa?
Paman
Sasa menceritakan kembali. Ia jelaskan dari awal. Hingga mereka berpisah. Ia
tahu jika usia mereka sudah matang dan pas untuk mengetahui kejadian yang
sebenarnya. Paman memberitahukan bahwa ia dan istrinya, bibi Riri adalah tangan
kanan dari ratu Kirani. Ibu mereka. hening. Lalu, suara bahak tawa Riri
menemani obrolan hujan lebat yang baginya sama sekali tak masuk akal.
“
Sudahlah. Apa, sih. Ya, aku terima jika aku kembar. Tapi, kerajaan, penyihir,
Bayangan hitam, Ratu, peperangan. Apalah. Aku tak percaya.” Ujar Riri.
“
Kau harus tahu, ini semua memang terjadi.”
“
Buktikan.” Pinta Riri.
“
Mungkin kalung kita.”
“
Ya. Itu adalah ciri kalian. Apa kalian pernag bertanya tentang nama kalian dan
kalun itu?” Riri melihat kalungnya.
Paman
Sasa menjelaskan. Huruk ketiganya hilang. Dan lambangnya seperti di patahkan.
Riri mulai percaya.
“
Sudahlah.” Ucap Riri.
“
Kalian tidurlah.” Paman menatap keluar lewat jendela.
***
Pagi
hari, dimana Riri bangun dari tidurnya bersama Sasa. Ia pergi menuju rumahnya.
Ia terheran, saat ia hendak akan pergi, ternyata bibinya yang ia khawatirkan
telah menjadi tamu di rumahnya Sasa.
“
Bibi?”
Bibinya
terbangun dari duduknya. Ia memeluk erat Riri. Ia sangat ketakutan, semalam
dirinya tak pulang.
“
Selamat pagi.” Sapa Sasa.
“
Pagi.” Suara Riri terdengar sedu.
“
Kalian sudah disini.” Sapa Paman, saat ia baru datang dari luar.
“
Zun?” Bibi memeluk suaminya.
“
Lan, aku sangat merindukanmu.”
“
Aku pun. Namun, demi amanat kerajaan kita harus berpisah untuk waktu yang sangat
lama.” Ujar Lan. Bibinya Riri.
Zun
meminta semua untuk berkumpul dengannya di meja makan. Sembari sarapan, ia
ingin memberitahukan sesuatu soal kerajaan Saarii dan pulau Palla. Zun sebagai
tangan kanan kerajaan mengetahui banyak tentang kerajaan saat ini.
Sasa
danRiri mendengarkan. Mereka tak tahu sama sekali tentang ayah an ibu mereka.
mereka berdua pun tak percaya jika mereka adalah putri yang di selamatkan dari
peperangan. Raja, ayahnya entah berada di mana. Setahu Zun, raja di kurung di
bawah tanah. Sedangkan sang ratu, ibunya mereka di kurung di sebuah kamar yang
berada di ujung menara. Untuk mendapat gelar ratu yang berkuasa, Mamari harus
memusnahkan semua keluarga raja.
“
Siapa Mamari?” tanya Riri.
“
Mamari adalah adik ibu kalian yang sangat berambisi menguasai kerajaan.
Kesalahannya tak dapat di maafkan. Ia di usir dari kerajaan.” Jelas Lan.
“
Kesalahan apa?”
“
Membunuh kakak kalian.”
“
Apa?” spontan Sasa dan Riri.
“
Jadi, kita harus melakukan sesuatu untuk menaklukan Mamari.” Zun meminta
pendapat.
Zun
menjelaskan rencananya. Ia meminta semua untuk segera pergi ke kerajaan. Semua
heran, tak ada yang mengerti harus kemana mereka pergi. Tak ada jalan untuk
menuju pulau Palla.
Zun
mengajak mereka ke sebuah pinru bawah tanah yang tertutup permadani. Ia
membukanya. Sasa tak pernah tahu ada jalan seperti itu.
Mereka
turun ke bawah tanah. Sebuah pintu rahasia terlihat sangat besar. Zun mencoba
untuk membukanya. Saat terbuka, cahaya menyorot terang mata mereka. terlihat
kerajaan yang begitu besar. Sungai mengalir di antaranya. Pulau yang sangat
indah. Mereka takjub atas apa yang mereka lihat.
“
Apa ini kerajaan kami?” tanya Sasa.
“
Ya.”
“
Aku ingin bertemu kedua orang tuaku.”
“
Bersabarlah.”
“
Begini, aku akan menyamar sebagai orang dalam. Kami punya kemampuan untuk
berubah wujud.” Jelas Lan.
“
Lalu, kami?”
“
Kalian mampu untuk dapat tak terlihat. Caranya, kalian gabungkan kedua bagian
yang terpisah dari kalung kalian.” Ujar Lan.
“
Namun, ingat! Bayangan hitam selalu menghantui. Jangan pernah dengarkan
siapapun kecuali kami. Rasakan dengan hatimu.” Ujar Zun.
Sasa
dan Riri menyatukan kalung mereka. Hasilnya, mereka tak terlihat. Namun, hanya
untuk satu hari. Mereka pun tak boleh melepas sebuah batu yang di berkan Zun
pada mereka dalam genggamannya. Zun dan Lan berubah jadi pelayan. Lan akan
membantu Sasa untuk bertemu ibunya. Sedangkan Zun membantu Riri bertemu
Ayahnya.
Misi
pun mereka jalani. Lan menemani Sasa naik ke atas menara. Ia akan di pertemukan
dengan ibunya. Lan membawa senampan makanan untuk di berikan kepada ratu.
Sedangkan Sasa yang tak terlihat ikut bersama Lan menaiki tangga menuju ujung
menara.
Di
tangga tak ada seorang pun penjaga. Hanya para pelayanlah yang boleh masuk ke
dalam menara. Di pintu kamar seorang penjaga yang tengah berjaga memberhentikan
langkah Lan. Sasa terkejut. Ia takut. Hampir saja ia membuka genggamannya.
Baginya, tak seperti yang ia bayangkan untuk menyelamatkan ibunya yang
terkurung. Namun, ia memberanikan diri.
Di
dalam kamar, sang ratu terkejut. Kenapa ia dikirimi makanan lagi? Namun, Sasa
membuka genggamannya. Ia menangis. Apa benar yang ia lihat sekarang adalah
ibunya?
“
Ibu?” panggil Sasa dengan bibir yang bergetar. Ratu langsung memeluknya erat.
“
Mana saudaramu?” tanyanya.
“
Menyelamatkan ayah.” Ratu langsung panik.
Jauh
dari mereka yang dalam keadaan yang sepi. Riri harus menghadapi keadaan yang
sangat menegangkan. Mamari sedang berada di penjara bawah tanah. Ia sedang
memeriksa para penjaga. Ia pun sedang melihat sang raja yang dalam keadaan yang
sangat mengkhawatirkan.
Ketegangan
mereka di buang oleh berita penjaga yang mati mengenaskan di ujung menara. Di
susul dengan berita kehilangan sang ratu.
Mamari
langsung pergi bersama para pengawalnya untuk melihat. bagaimana mungkin sang
ratu mampu untuk melarikan diri.
Kesempatan
itu tak di sia-siakan oleh Zun. Ia langsung membuka pintu keluar bagi sang
raja. Riri pun memeluk ayahnya. Zun mengusap dada, dia yakin ratu teah pergi
bersama dengan Sasa dan Lan.
Riri
mencoba untuk membebaskan ayahnya. Akhirnya mereka dapat meloloskan diri. Riri
memeluk ayahnya. Sang raja tak percaya jika putrinya sungguh sangat berani.
Zun
membawa raja dan Riri keluar. Ia pergi melalui jalan rahasia. Mereka akan
membalas Mamari nanti. Untunglah bayangan hitam itu tak ada.
Saat
mereka bertemu. Semua menambah energi untuk menghadapi Mamari. Mereka tahu
pasti Mamari akan mencari. Namun, di rumah Zun mereka aman.
Beberapa
hari kemudian, mereka sepakat untuk memerangi Mamari. Mereka datang ke kamar
Mamari dan mengejutkan Mamari. Dengan kalung putri mereka, Mamari di buat bisu.
Mereka menyekap Mamari. Mamari pun di penjarakan. Waktu penghukuman untuk di
hukum gantung sudah di tetapkan.
Akhirnya,
semua anggota keluarga raja berkumpul setelah terpisah bertahun-tahun. Mereka
hidup bahagia. Jauh dari Mamari juga bayang-bayang yang menghantui.
Comments
Post a Comment